Kamis, 10 Juli 2008

Dan Tuhan pun ikut bermain dadu


Udara malam di kota saya begitu dingin, saya dan seorang kawan lama saya memutuskan untuk duduk-duduk sambil minum kopi di suatu tempat. Di tempat itu tersedia beberapa permainan untuk menemani kami mium kopi. Awalnya kami akan berceloteh mengenai suatu makalah tentang Sejarah filsafat Islam dan pemikiran Islam serta isu-isu kontemporer. Tapi karena di tempat itu tidak ada penerangan yang dapat memungkinkan untuk membaca maka kita memutuskan untuk mengambil permainan itu.

Ada dua permainan yang disediakan pertama adalah catur dan kedua adalah ular tangga. Sebelum kami menuju tempat ini kami lama berbincang mengenai pluralism maka kami memutuskan mengambil permainan ular tangga karena setiap kotak di papan itu menyediakan warna yang berbeda-beda hal ini berbeda dengan papan catur yang hanya menyediakan dua warna hitam dan putih dan itu cukup membosankan. Selain itu juga karena kami tidak layak untuk dikatakan bisa bermain catur.

Sebelum permainan di mulai kami bersepakat untuk melakukan dekonstruksi permainan. Pertama ialah kita memulai permainan dari angka 100 menuju angka 1 tidak seperti biasanya permainan ular tangga di mulai dari angka 1 menuju 100. Artinya bahwa hidup kita dimulai dari segala sesuatu yang beraneka rupa dan hanya akan menuju pada yang satu. Yang kedua adalah jika permainan ular tangga biasa, siapa yang mendapat mata dadu 6 maka mempunyai privilege yaitu mendapatkan kesempatan mengundi dadu sekali lagi namun dalam aturan permainan kami justru yang mendapatkan privilege adalah jika kita mendapatkan mata dadu 1. Karena jika kita mendapatkan mata dadu enam dan mendapat privilege maka akan berbenturan dengan asas keadilan yang kaya akan semakin kaya dan yang miskin akan semakin miskin. Ketiga ialah jika medapatkan ular maka akan mendapatkan bonus naik ke strata yang lebih tinggi sesuai aturan yang telah ditentukan namun jika bertemu dengan tangga maka akan membuat turun/ jatuh sesuai strata yang telah di tentukan, jika dalam permainan normal (dalam pandangan mainstream) mendapatkan tangga akan naik dan mendapatkan ular maka akan turun namun logika ini akan berlawanan dengan peribahasa sudah jatuh tertimpa tangga.

Kemudian kami pun memulai permainan, pada awalnya saya sempat tertinggal jauh dari teman saya, saya pernah hampir menyalipnya( saya mendapatkan kesempatan melangkah dua kali namun saya bilang tiga karena saya akan mendapatkan ular dan secara otomatis saya naik) namun saya mengurungkannya dan mengakui bahwa saya hanya mendapat mata dadu 2 kemudian saya katakan pada teman saya bahwa kamu adalah gambaran masyarakat Indonesia mudah di tipu dan kurang kritis. Untung teman saya tidak mengatakan saya adalah gambaran pejabat Negara Indonesia yang mudah memanipulasi angka. Disela-sela permainan ular tangga, kami sesekali menyeruput mocca late dengan didampingi pisang coklat (sebenarnya kami tidak memesan pisang coklat tapi kentang goreng) namun pelayan salah membaca pesanan kami.

Permainanpun masih berlanjut, karena kita bermain diatas meja bambu yang tidak rata kadang dadu berdiri tak sempurna sehingga dapat di baca dari dua arah, arah saya dan arah teman lamaku ini. Sehingga kita menggunakan pendekatan hermeneutika. Yaitu menempatkan pengundi dadu, dadu, dan pembaca mata dadu. Sehingga kebenaran di serahkan pada pengundi dadu, kebetulan karena saya lah yang berposisi sebagai pemain dan pengundi dadu maka saya memiliki otoritas dalam pembacaan mata dadu. kadang kita jatuh tertimpa tangga namun kadang kita terbang bersama ular ajaib. Saat mulai mendekati strata tertinggi dalam permainana ular tangga kami selalu jatuh tertimpa tangga (seperti terjebak dalam vicious circle). Di dalam strata tertinggi di permainaan ular tangga ini terdapat dua tangga yang akan membuat kita terjatuh. Kita hampir putus asa untuk melanjutkan permainaan karena kita selalu jatuh dan jatuh. Mungkin inilah yang dirasakan orang-orang yang bunuh diri karena tekanan hidup. Akhirnya teman saya punya ide untuk berdoa, bahwa dalam setiap kebuntuan maka harus kembali pada Tuhan kembali pada sesuatu diluar kekuatan manusia.

Saat sudah mendekati strata tertinggi teman saya lupa membaca doa dan akhirnya mendapatkan mata dadu enam dan turun dengan tangga menuju hampir setengah halaman ular tangga(dia anggap masih jauh jadi belum perlu berdoa). Begitupun juga saya masih sering jatuh tertimpa tangga, dan akhirnya kami pun mampu naik kembali ke strata paling tinggi dalam permainan ini, sebelum menghadapi kotak yangdapat menurunkan kita, kita pun berdoa dan sesuatu yang luar biasa kita mampu melewati kotak maut tersebut. Dan teman saya berdoa kembali untuk dapat mencapai finish (sebenarnya dalam papan ular tangga tertulis kata : mulai). Karena dia membutuhkan mata dadu 2 untuk mencapai finish dan diapun berdoa meminta mata dadu 2 akhirnya benar yang keluar adalah mata dadu 2 dan diapun memenangkan permainan itu. Kemudian saya ikut berdoa karena tinggal giliran saya, saya membutuhkan angka 6 namun saya tidak menyertakan angka enam dalam doa saya karena saya pikir Tuhan maha Tahu. Akhirnya yang keluarpun angka enam dan saya dapat sampai finish. Walaupun harus kalah.

Menarik bermain ular tangga ini karena kita dapat menghargai pluralisme, berbeda-beda agama tetapi pada hakikatnya menuju pada yang satu, kita belajar melakukan pembacaan hermeneutik, melakukan dekonstruksi terhadap aturan, menggunakan local wisdom dalam perjalanan hidup salah satu bentuknya ialah menggunakan peribahasa bijak, belajar tentang kesabaran dan kejujuran, dan yang paling penting bahwa ada kesadaran mengenai kekuatan diluar manusia sehingga dalam hidup memerlukan doa.

Untuk teman lama saya semoga kita dapat bertemu kembali dan bermain dalam pikiran-pikiran. Seperti pembicaraan kita dulu saat masih duduk di bangku SMA bahwa masalah tidak harus untuk langsung dihadapi, namun juga tidak langsung untuk dihindari namun kita harus keluar dari masalah dan memproyeksikannya dari luar baru memutuskan apakah kita harus lari atau menyelami masalah. Melihat permainan ular tangga saya teringat buku Gunawan Muhammad yang berjudul Tuhan dan hal-hal yang tak selesai. Jika belajar dari permainan ular tangga saya berharap di suatu waktu dapat menulis buku berjudul Tuhan dan segala sesuatu yang harus cepat-cepat di selesaikan.

Selasa, 08 Juli 2008

Madina, majalah alternatif

Bermula ketika beberapa bulan terakhir, saya harus pulang ke kampung halaman di Purwokerto (Sebuah kota kecil di Jawa Tengah). Disela-sela waktu saya iseng mencari bacaan-bacaan di perpustakaan pribadi orang tua saya. Saya menemukan beberapa eksemplar majalah-majalah saya diwaktu kecil seperti majalah bobo kemudian majalah remaja seperti HAI dan majalah-majalah favorit pada saat saya duduk di bangku SMA yaitu SABILI. saya membaca ulang majalah yang satu ini karena cover depannya cukup fantastik “tolak presiden salib” lalu ada lagi judul “Strategi salib kuasai pemilu”. Ketika memegang majalah ini saya teringat pesan salah satu dosen saya di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta yang menyarankan membaca majalah ini, beliau mengatakan” sekali-kali bacalah sabili jangan hanya baca kompas dan tempo saja” mungkin suatu saat saya harus mengatakan pada umat Islam”yang mengaku paling beriman” jangan hanya baca Sabili sekali-kali bacalah tempo atau kompas. Majalah seperti sabili Dari judul-judulnya saja sangat provokatif dan berperan besar mempengaruhi Psikologi pembacanya dalam memandang suatu masalah, selalu dikotomik. Benar dan salah, mukmin dan kafir dan sebagainya.

Selain majalah-majalah tersebut saya juga membaca majalah-majalah koleksi orang tua seperti As-shunnah, Al- Furqon, As-Silm, Umi dan gerimis yang menjadi majalah mayoritas di rak buku milik orang tua saya. Tapi isinya tak jauh beda dari majalah yang telah disebutkan diatas. Masih memandang segalanya dikotomik dan cenderung selalu menyalahkan. Kemudian di kota Purwokerto ini saya jalan-jalan ke toko buku Gramedia. Saya melihat majalah madina, (sebenarnya bukan yang pertama kali melihat tapi pertama kali melihat dengan membawa uang yang cukup untuk membelinya). Dan akhirnya saya memutuskan membelinya, saya membeli madina edisi bulan Juni dan saya melewatkan 5 edisi sebelumnya.

Saya tertarik membeli madina karena cover depannya memuat 25 tokoh Islam Damai. Karena isu mengenai kekerasaan atas nama agama mulai muncul kembali di Negara kita Indonesia. Ini menjadi media alternatif di tengah menjamurnya media-media Islam yang antagonistik terhadap modernitas. Ada beberapa kelebihan dan kekurangan dari majalah madina ini :

Kelebihannya pertama, Lebih menyejukan, karena media ini tidak memprovokasi pembaca untuk melakukan kekerasan atas nama agama. Kedua, halaman full color, sehingga pembaca tidak hanya menikmati tulisan-tulisannya tetapi juga dapat menikmati gambar-gambar yang disajikan. Ketiga, memberikan perspektif berbeda terhadap suatu masalah. Misalnya dalam edisi bulan Juni 2008 madina mencoba melihat Isu Israel dengan cara pandang berbeda. Madina menyajikan wawancara eksklusif dengan Rabi Yisroel Dovid Weiss yang menganggap bahwa Yahudi Religius adalah anti Zionis. Hal ini menjadi cara pandang baru ditengah-tengah pandangan yang menganggap bahwa konflik Israel Palestina adalah konflik para fundamentalis agama dan pandangan yang menganggap konflik Israel-Palestina adalah konflik agama antara Islam dan Yahudi. Pandangan baru ini meruntuhkan argumen yang men-generalisasikan orang yahudi itu memusuhi Islam. Keempat ialah berorientasi pada penyebaran paham pluralisme, paham ini diperlukan dalam dunia multikultural seperti saat ini. Kelima, tulisannya cukup ringan sehingga mudah di konsumsi khalayak ramai. Keenam, ini yang paling penting, membela Islam dengan cara yang santun.

Tak ada gading yang tak retak, selain kelebihan-kelebihan diatas majalah Madina ini juga memiliki beberapa kekurangan. Pertama, harganya yang cukup mahal untuk seorang mahasiswa. Kedua, dalam hal iklan masih relatif sedikit sehingga masih dipertanyakan sustainability majalah ini. Ketiga, minimnya kolaborasi antara fakta sosial dan teks-teks Al-Quran dan Al hadits. Keempat, minimnya ruang untuk opini.

Terlepas dari segala kekurangan, media ini pantas untuk diapresiasi dan dijadikan sebagai media alternatif di tengah hiruk pikuk media yang menawarkan formalisasi Syariat dan konflik atas nama agama. Dan media yang satu ini layak untuk dibaca.

Minggu, 22 Juni 2008

Organisasi Islam dan isu yang tak seksi


Saat ini kita hidup di dalam sebuah ruang yang disebut perkampungan global, sebuah ruang dimana segala informasi secara cepat bisa di dapat. Islam sebagai agama yang telah lahir 14 abad yang lalu, telah melalui perjalanan yang berliku-liku. Satu hal yang sangat menyedihkan menurut Penulis ialah dalam perjalanannya islam terlalu larut di bawa ke dalam ranah high politik. Dari berbagai konflik yang terjadi di dunia islam khususnya konflik intern lebih sering didominasi masalah politik. Yang di maksud politik di sini ialah sebuah perjuangan untuk mendapatkan, mempertahankan, dan memperluas kekuasaan.
Dalam studi ilmu politik, ranah politik bisa di klasifikasikan menjadi dua yaitu ranah high politik dan ranah low politik. Yang termasuk ranah high politik ialah kekuasaan, keamanan, perang dan damai, kemudian yang termasuk ranah low politik ialah masalah ekonomi, HAM, pluralisme, lingkungan, pendidikan, sosial, dan kebudayaan. Jika dimasukan dalam klasifikasi ini islam lebih sering bergerak dalam ranah high politik yaitu terlalu konsentrasi dalam hal kekuasaan.
Jika di telaah dari dulu yaitu dari zaman khilafah rasyidah hingga sekarang islam terlalu fokus pada masalah siapa yang memimpin, bagaimana membentuk khilafah islamiyah, bagaiman mebentuk negara islam, melakukan formalisasi syariat. Tetapi lupa pada hal-hal kecil yang sebenarnya besar seperti masalah pemanasan global, kemiskinan, pendidikan, dll. Hingga saat ini masih sedikit-untuk tidak mengatakan tidak ada organisasi ataupun gerakan islam yang peduli pada masalah-masalah seperti pemanasan global.
Belum lama ini kita dengar al Gore mantan wakil presiden pada masa pemerintahan Bill Clinton mendapatkan nobel perdamaian karena aktivitasnya yang peduli pada masalah global warming, hal ini adalah sebuah tamparan bagi organisasi ataupun gerakan islam. Organisasi islam yang selalu berbicara bahwasannya islam telah mengatur segala hal dalam kehidupan dari hal yang besar hingga hal yang detail sekalipun, tetapi dalam kenyataannya islam hanya di pakai sebagai dalih untuk menyerang masyarakat kecil yang membuka usahanya di siang hari pada bulan ramadhan, islam di gunakan sebagai alat untuk mendapatkan kekuasaan, Islam dimanfaatkan untuk melegalisasi tindakan kekerasan dan islam di bajak untuk tindakan-tindakan terorisme hal ini cukup menyedihkan. Penulis meyakini bahwa dalam islam banyak terdapat landasan-landasan normatif mengenai masalah-masalah lingkungan.
Mulai saat ini hendaknya ada organisasi islam yang dalam gerakannya peduli pada masalah pemanasan global, sehingga tidak terjadi politisasi agama yang cenderung reduksionis. Di harapkan organisasi islam mampu menyebarkan islam yang transformatif dan progresif.

Jumat, 06 Juni 2008

FPI dan Imajinasi tentang Surga

“Mengejar surga yang damai dengan kekerasan”

Peringatan hari pancasila 1 juni 2008 harus tercoreng dengan adanya tindakan penyerangan yang dilakukan oleh masa FPI (Front Pembela Islam) terhadap Aliansi kebangsaan untuk kebebasan beragama dan berkeyakinan yang sedang mengadakan aksi damai di lapangan Monas. Aksi ini diikuti oleh sekitar 70 lembaga diantaranya ialah Nahdatul Ulama, Ahmadiyah, Komunitas Gereja, Penghayat Kepercayaan, Syiah dan Pesantren Cirebon. Serangan ini menyebabkan 12 orang dari Aliansi kebangsaan untuk kebebasan beragama dan berkeyakinan mengalami luka-luka.

Tindakan kekerasan yang dilakukan oleh FPI ini adalah tindakan yang tidak dapat dibenarkan dari sudut pandang manapun. Sebagai ORMAS yang mengatasnamakan Islam, FPI seharusnya memahami peran dasar sebuah agama yaitu untuk untuk membebaskan (to liberate), mendidik (to educate),dan memanusiakan (to humanize) kehidupan manusia. Apa yang dilakukan oleh FPI adalah sebuah tindakan yang jauh dari semangat memanusiakan manusia.

Menurut Oxford Dictionary (1998) violence atau kekerasan adalah “tingkah laku yang melibatkan kekuatan fisik untuk melukai, menyakiti, merusak atau membunuh seorang atau sesuatu”. Ada dua kategori kekerasan, yang pertama adalah Oppressive Violence yaitu kekerasan yang bertujuan untuk penindasan dan merugikan orang lain. Yang kedua adalah liberative Violence yaitu kekerasan yang bertujuan membebaskan ini terjadi ketika sebuah Negara dalam kondisi terjajah oleh kelompok lain. Dalam hal ini kekerasan yang dilakukan oleh FPI termasuk kategori Opressive Violence.

Menurut FPI, aliansi kebangsaan untuk kebebasan beragama dan Berkeyakinan telah melindungi kelompok Ahmadiyah yang mereka anggap telah “menodai” ajaran Islam. Sehingga pilihannya adalah “tobat atau perang”. Disini Ironi terjadi ketika FPI beranggapan bahwa Ahmadiyah harus dibubarkan karena telah “menodai” ajaran Islam tetapi cara yang digunakan oleh FPI justru lebih menodai Islam. Kalaupun logika perang yang digunakan hal itu masih jauh dari etika berperang Rasululloh SAW karena menyerang perempuan dan anak-anak. Dan penulis menganggap bahwa Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan beragama dan berkeyakinan tidak pantas untuk diserang atau diperangi.

Apa yang dilakukan FPI adalah buah dari Imajinasi tentang surga. Agama dalam persepektif mereka adalah untuk Tuhan bukan untuk manusia. Sehingga apa yang dilakukan jauh dari sifat kemanusiaan dan tidak berakar dibumi. Dan hal itu dilakukan demi medapatkan “surga yang telah dijanjikan”. Lagi-lagi ironi terjadi mereka ingin mengejar surga yang penuh kedamaian dengan melakukan kekerasan, dua hal yang bertolak belakang.

Fenomena kekerasan atas nama agama menurut Kimball sebagaimana dikutip oleh Sunarwoto Dewa[1] adalah karena adanya pembusukan dan pengkorupsian agama, ada lima tanda proses pembusukan dan pengkorupsian agama pertama, klaim kebenaran. Kedua, ketaatan buta pada pemimpin agama. Ketiga, upaya-upaya membangun zaman ideal. Keempat, tujuan menghalalkan segala cara dan puncak dari keempat tanda tersebut adalah ide perang suci (holy war). Fenomena FPI diatas adalah sebuah tanda telah terjadi pembusukan pengkorupsian agama karena FPI melakukan klaim kebenaran, menghalalkan kekerasan dan mengembangkan ide “perang suci”

Kekerasan adalah tindakan yang memalukan dalam masyarakat modern apalagi dengan mengatasnamakan Agama. Dan dalam kasus FPI ini telah melanggar UUD 1945 serta Pancasila sehingga diharapkan adanya ketegasan pemerintah untuk menindak pelaku kekerasan. Pemerintah harus melindungi masyarakat apalagi masyarakat yang haknya dilanggar. Dan untuk penutup, penulis akan mengutip apa yang dikatakan oleh Mohandes Karamchand Gandhi (1869-1948), “kejahatan terlahir dari kejahatan, kejahatan melahirkan kejahatan, dan kejahatan terejawantahkan melalui kekerasan”.

.


[1] Sunarwoto Dewa, menyingkap tanda-tanda bencana agama, jawa pos, 7 maret 2004

Minggu, 01 Juni 2008

Di bawah kuasa bayang-bayang


Bayangkanlah jika kamu menjadi presiden !

Bayangkanlah jika kamu harus menjadi vegetarian !

Bayangkanlah jika kamu harus berhenti bernafas !

Bayangkanlah jika tidak ada manusia di dunia ini !

Bayangkanlah jika kamu masuk surga !

Bayangkanlah jika kamu masuk neraka !

Dan…

Bayangkanlah jika kamu tidak mempunyai bayang-bayang !

Beberapa hari yang lalu saya dan beberapa teman jalan-jalan di Ambarukmo Plaza, ada banyak hal yang memprovokasi mata dan pikiran saya untuk bekerja ekstra lebih. Mata saya melihat ke sekeliling, proses pencitraan masal sedang dilakukan dengan begitu masif, sebuah outlet baju memajang beberapa tubuh perempuan cantik ( dalam bayangan saya ) di depan pintu, sebuah proses pencitraan sedang dilakukan oleh pemilik outlet tersebut, bahwa siapapun perempuan yang membeli baju di outlet ini maka akan secantik perempuan-perempuan yang dipajang tadi. Kemudian kaki saya melangkah di depan sebuah outlet alat-alat olahraga di sana terpampang sebuah gambar tubuh laki-laki yang begitu atletis, sekali lagi proses pencitraan massal sedang dilakukan oleh pemilik outlet tersebut, hal ini dilakukan untuk mempengaruhi siapapun (khususnya laki-laki) yang lewat di depan outlet tersebut dapat memiliki tubuh ideal jika menggunakan alat-alat olahraga yang disediakan outlet tersebut. Entah itu laki-laki kurus atau gemuk.

Sebenarnya proses pencitraan itu tidak hanya ada di Ambarukmo Plaza saja namun telah menyebar di jalan-jalan, dikampus, sekolah bahkan telah masuk kedalam kamar tidur kita. saya tidak akan membicarakan mengenai seberapa jauh proses pencitraan merasuk kedalam tubuh kita, melainkan saya akan membicarakan mengenai sesuatu yang dekat dengan kita, sekumpulan sesuatu yang bersemayam dipikiran kita. Yaitu makhluk bernama bayang-bayang.

Kadang saya bertanya pada diri sendiri apakah saya ( sepotong fisik yang berisi akal, hati nurani, dan hawa nafsu ) sebagai sesuatu yang asli dan memiliki bayang-bayang yang berupa sekumpulan angan yang bersemayam dalam pikiran atau saya ( sepotong fisik yang berisi akal, hati nurani, dan hawa nafsu ) adalah bayang-bayang dari apa yang selama ini kita anggap (bayangkan) sebagai bayang-bayang ?

Karena jangan-jangan kita adalah sebuah bayangan dari hasil rekaan para pemilik outlet baju, sepatu alat-alat olahraga atau mungkin keberadaan kita saat ini adalah hasil dari apa yang dibayangkan oleh orang-orang sebelum kita.

pertanyaan seperti itu harus hadir pada diri kita karena disadari atau tidak kita sering dikuasai oleh makhluk bernama bayang-bayang. Misalnya Jika bayangan tentang uang hadir dalam pikiran kita maka kita akan berusaha mengejar dan mencarinya hingga berkeringat atau bahkan sampai berdarah-darah, bayangan itu telah membuat kita cinta mati dengan apa namanya uang padahal tidak ada uang yang cinta mati pada kita. Disini bayangan tentang uang telah menjadi moneypulator meminjam istilah Jenar Maesa Ayu. Lalu bayangan tentang Indonesia yang adil dan makmur telah memakan begitu banyak korban harta bahkan sampai nyawa, bayangan tentang surga juga berperan besar dalam peledakan-peledakan bom yang membunuh tak sedikit manusia, bayangan tentang defisitnya APBN pun membuat pemerintah kita mencabut subsidi minyak untuk rakyat dan masih banyak contoh lainnya.

Kita kadang tak pernah merasa puas dengan sesuatu hal yang telah kita dapatkan karena bayang-bayang telah menarik kita untuk mendapatkan sesuatu yang lebih besar dari apa yag telah kita dapatkan dan ketika kita merasa kehilangan harapan atau ketika kita merasa jatuh, bayang-bayang membuat kita bersemangat lagi karena bayang-bayang hadir dengan wajah yang indah dan menyenangkan.

Tulisan ini hanya ingin mengajak kita semua merenungkan betapa luarbiasanya pengaruh bayang-bayang dalam kehidupan umat manusia. Bayang-bayang telah menguasai kehidupan manusia. Manusia akan melakukan apa saja demi bayang-bayang. Permasalahannya bukan bagaimana kita menghilangkan bayang-bayang yang telah mensubordinasikan kita tetapi bagaimana mendudukan bayang-bayang sesuai dengan porsinya karena bayang-bayang dan manusia adalah dua entitas yang tak dapat dipisahkan. Saya teringat apa kata shindunata bahwa bayang-bayang itulah kenyataan yang selalu menyertai hidup manusia. Bisa jadi bayang-bayang itu adalah lamunannya, impiannya atau cita-citanya tapi bisa juga bayang-bayangnya itu adalah kegagalannya, kesia-siaannya atau kesedihannya. Manusia tak mungkin ada tanpa bayang-bayangnya. Dimanapun ia berada, kemanapun ia mengembara, bayang-bayang itu tak mungkin lepas dari hidupnya (bayang-bayang, Sudiarja, 2003).

Kamis, 29 Mei 2008

Menghimpun kita pada suatu ruang

keringat kita

menyatu

meludahi kesunyian

nafas kita berlarian

memburu harapan

kulit kita mengelupas

dan kita menikah

dalam pikiran